Seputar UBBUniversitas Bangka Belitung

Dari Tapak Antu hingga Tanjung Ular: Mengurai Mitologi Lokal dalam Penamaan Destinasi Wisata Bangka

300
×

Dari Tapak Antu hingga Tanjung Ular: Mengurai Mitologi Lokal dalam Penamaan Destinasi Wisata Bangka

Sebarkan artikel ini

Merawang, Suarababelnews.com

Keindahan alam Bangka tidak hanya tersimpan pada pasir putih dan birunya laut, tetapi juga dalam kisah-kisah tua yang hidup di balik setiap nama tempat wisata. Di balik Pantai Tapak Antu, Batu Balai, Tanjung Ular, hingga Pantai Batu Berakit, tersimpan narasi mitologis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui penelitian berjudul

Mengungkap Mitologi Lokal: Penamaan Tempat Wisata di Bangka Barat, Bangka Selatan, dan Bangka Tengah melalui Struktur Naratif,” tim peneliti dari Universitas Bangka Belitung (UBB) berusaha merekam dan menafsirkan makna-makna tersebut secara ilmiah.

Penelitian ini dipimpin oleh Rizky Arif Afandi, M.A, dosen Sastra Inggris yang dikenal aktif meneliti wacana budaya dan kearifan lokal di kepulauan Bangka Belitung.

Dalam pelaksanaannya, ketua peneliti dibantu oleh dua mahasiswa yang bertindak sebagai enumerator lapangan. Mereka tidak hanya melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat pesisir, tetapi juga mengobservasi langsung kondisi sosial dan budaya di sekitar lokasi penelitian, seperti Mercusuar Mentok, Pantai Tapak Antu, Pantai Lampu, Batu Balai, Pantai Tanjung Ular, dan Pantai Batu Berakit.

Menurut Ketua Peneliti, penamaan tempat merupakan refleksi dari cara masyarakat memahami dunia mereka. Nama sebuah lokasi tidak hadir begitu saja, melainkan merupakan hasil tafsir kolektif terhadap peristiwa, fenomena, atau keyakinan yang melekat dalam kehidupan masyarakat setempat.

“Dalam konteks Bangka, nama-nama tempat wisata menyimpan struktur naratif yang kompleks. Ia tidak hanya menjelaskan ‘apa’ dan ‘di mana’, tetapi juga ‘mengapa’ mengapa sebuah tempat dianggap sakral, berbahaya, atau penuh berkah,” ungkap Ketua Peneliti di sela kegiatan wawancara di Mentok.

Jejak Mitologi dalam Nama-Nama Wisata, salah satu lokasi penelitian, Pantai Tapak Antu, menyimpan kisah legendaris yang dipercaya warga sekitar sebagai jejak makhluk halus raksasa yang pernah menampakkan diri di tepi pantai.

Cerita ini diwariskan secara lisan oleh para tetua kampung dan sering diceritakan kepada anak-anak sebagai bagian dari nasihat moral agar menghormati alam dan tidak berbuat sombong. Struktur naratif dari mitos ini, menurut tim peneliti, menunjukkan pola cause-effect, di mana kehadiran sosok gaib menjadi penjelasan terhadap fenomena alam yang tak terjelaskan secara logis.

Sementara itu, Pantai Tanjung Ular memiliki kisah berbeda. Nama ular bukan sekadar karena bentuk tanjung yang melengkung menyerupai tubuh ular, tetapi juga karena legenda tentang ular penjaga laut yang diyakini melindungi nelayan dari badai.

Warga setempat bahkan memiliki pantangan untuk tidak menyebut nama ular secara langsung ketika melaut agar tidak menyinggung makhluk penjaga tersebut. Dari sisi analisis naratif, kisah ini memperlihatkan pola guardian myth/ mitos pelindung yang menegaskan hubungan spiritual antara manusia dan alam.

Di tempat lain, Mercusuar Mentok yang berdiri megah di ujung barat Pulau Bangka juga memiliki narasi menarik. Konon, sebelum mercusuar dibangun, terdapat cahaya misterius yang sering terlihat di kejauhan pada malam hari, yang diyakini sebagai petunjuk dari roh laut bagi para pelaut yang tersesat. Setelah mercusuar didirikan, kisah itu berubah menjadi simbol modernisasi dan harapan baru.

Ketua Peneliti menyebut fenomena ini sebagai bentuk “transformasi naratif”, di mana mitologi lama beradaptasi dengan simbol baru yang lahir dari perkembangan zaman.

Pendekatan Struktur Naratif dan Pelestarian Kearifan Lokal, dalam penelitian ini, Ketua Peneliti dan tim menggunakan teori struktur naratif untuk memetakan pola dan elemen yang membentuk kisah-kisah lokal tersebut. Mereka menelusuri unsur seperti tokoh utama, latar, konflik, dan resolusi yang tersembunyi di balik penamaan tempat.

Hasil analisis menunjukkan bahwa setiap cerita memiliki fungsi sosial tertentu, seperti memberikan nasihat moral, menumbuhkan rasa takut terhadap pelanggaran norma, atau menegaskan identitas komunitas.

“Mitologi lokal berfungsi sebagai sarana edukatif dan kontrol sosial,” jelas Ketua Peneliti.

“Masyarakat menggunakan cerita untuk menjelaskan hal-hal yang belum bisa diterangkan secara ilmiah dan untuk menjaga keteraturan sosial.”

Tim juga menekankan bahwa penggalian mitologi lokal memiliki nilai strategis dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya.

Wisatawan modern tidak hanya mencari pemandangan indah, tetapi juga ingin menikmati pengalaman yang autentik dan bermakna. Oleh karena itu, cerita-cerita lokal ini dapat menjadi jiwa bagi promosi pariwisata yang lebih berkarakter.

Kolaborasi Mahasiswa dan Pemberdayaan Lokal, selain menggali aspek budaya,
penelitian ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa UBB yang terlibat. Dua enumerator mahasiswa dilatih untuk melakukan wawancara etnografis, mencatat hasil observasi, dan menganalisis data naratif menggunakan teori sastra dan linguistik.

Melalui kegiatan lapangan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung tentang bagaimana penelitian sosial-budaya dilakukan di tengah masyarakat.

“Kami belajar mendengarkan masyarakat, bukan hanya mencatat. Setiap cerita punya cara tersendiri untuk diceritakan,” ujar salah satu enumerator mahasiswa yang ikut turun ke lapangan di Pantai Lampu.

Keterlibatan masyarakat lokal juga menjadi bagian penting dalam penelitian ini.
Tokoh adat, nelayan, dan penjaga wisata menjadi sumber utama informasi. Mereka menyambut baik kegiatan ini karena dianggap membantu mendokumentasikan warisan lisan yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan orang tua.

“Kalau tidak ditulis, nanti anak cucu tidak tahu asal-usul nama tempat ini,” ujar salah seorang tokoh masyarakat di Batu Balai.

Dari Cerita ke Identitas Budaya
Ketua Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan kebudayaan daerah. Ia menilai bahwa penamaan tempat merupakan salah satu bentuk warisan budaya takbenda yang patut dilestarikan. Dalam konteks globalisasi yang semakin kuat, masyarakat lokal sering kali kehilangan makna terhadap asal-usul nama daerah mereka sendiri.

Penelitian ini menunjukkan bahwa penamaan seperti Pantai Batu Berakit misalnya, tidak semata-mata merujuk pada keberadaan batu besar yang tersusun seperti rakit, melainkan mengandung simbol perjalanan dan keteguhan hidup para pelaut. Struktur naratifnya memperlihatkan pola perjalanan spiritual di mana laut dipandang sebagai ruang ujian sekaligus sumber kehidupan.

Rekomendasi dan Dampak Penelitian
Dari hasil penelitian, tim memberikan rekomendasi agar pemerintah daerah dan pelaku pariwisata memanfaatkan potensi narasi lokal sebagai bagian dari promosi wisata berkelanjutan. Pengemasan ulang kisah-kisah ini dalam bentuk tur mitologi, papan informasi naratif, atau pertunjukan seni tradisional dapat meningkatkan minat wisatawan sekaligus menjaga keberlanjutan budaya.

Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan ajar bagi mahasiswa sastra, antropologi, dan komunikasi budaya di Universitas Bangka Belitung.

Ketua Peneliti menyebutkan bahwa publikasi ilmiah dan dokumentasi digital dari hasil penelitian sedang disiapkan agar dapat diakses oleh masyarakat luas.

“Kami ingin mitologi lokal tidak hanya menjadi kenangan, tetapi menjadi sumber pengetahuan dan kebanggaan masyarakat Bangka,” pungkasnya.

Melalui penelitian ini, Pulau Bangka tidak hanya dikenal karena panorama pantai dan kuliner lautnya, tetapi juga karena kisah-kisah mitologis yang hidup di setiap pasir, batu, dan mercusuarnya. Di balik nama-nama tempat yang sederhana, tersimpan narasi agung tentang manusia, alam, dan spiritualitas yang membentuk identitas kultural masyarakat Bangka hingga kini.

Oleh: Rizky Arif Afandi, M.A.