Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka BelitungPemprov Babel

Gubernur Hidayat Arsani Pimpin Aksi Tanam Mangrove, Pemprov Babel Perkuat Pertahanan Pesisir

442
×

Gubernur Hidayat Arsani Pimpin Aksi Tanam Mangrove, Pemprov Babel Perkuat Pertahanan Pesisir

Sebarkan artikel ini

Bangka Tengah, Suarababelnews.com –

Suara debur ombak di pesisir Desa Baskara Bakti, Bangka Tengah, Jumat 5 Juni 2026, pagi itu bersahutan dengan riuh tawa dan semangat ratusan warga yang bahu-membahu menanam bibit mangrove. Di tengah hamparan lumpur pesisir, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, bersama jajaran TP PKK dan masyarakat, terjun langsung menanam masa depan bagi ekosistem daerah.

Kegiatan ini bukan sekadar seremonial memperingati Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Ini adalah manifesto nyata dengan tema “Terinspirasi oleh Alam, untuk Iklim, untuk Masa Depan Kita”.

“Babel punya garis pantai lebih dari 1.200 kilometer. Mangrove bukan cuma tanaman, mereka adalah benteng pertahanan masyarakat pesisir kita,” ujar Gubernur Hidayat Arsani di sela-sela aksi.

Baginya, puluhan ribu hektare mangrove yang membentang di Babel adalah aset tak ternilai yang harus dirawat agar anak cucu nanti tetap bisa menikmati kekayaan alam yang sama.

Di sisi lain, Ketua TP PKK Provinsi Kepulauan Babel, Ibu Noni Hidayat Arsani, menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai unit terkecil perubahan. Baginya, kesadaran lingkungan harus dimulai dari meja makan dan kebiasaan di rumah.

“Mari kita mulai dari hal kecil: memilah sampah organik dan nonorganik. Jangan lagi membuang sampah sembarangan,” ajak Ibu Noni.

Ia percaya bahwa PKK memiliki kekuatan untuk menggerakkan ibu-ibu dan keluarga untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Bagi masyarakat setempat, kehadiran ribuan bibit mangrove ini memberikan secercah harapan baru. Bahtiar Efendi, Kepala Desa Baskara Bakti, mengungkapkan bahwa ancaman abrasi selama ini menjadi mimpi buruk bagi warga. Dengan adanya aksi kolaboratif ini, kekhawatiran itu mulai perlahan sirna.

Hal senada diungkapkan Muhamad Sani (41), seorang warga yang ikut berkubang lumpur demi menanam mangrove. Baginya, mangrove adalah denyut nadi ekonomi keluarga.

“Kalau mangrove rimbun, kepiting dan udang jadi banyak. Hutan ini tempat mereka berkembang biak. Kalau hutannya rusak, ekonomi kami juga ikut terancam,” ungkapnya dengan tatapan optimistis ke arah bibit yang baru tertanam.

Aksi yang dihadiri pula oleh Bupati Bangka Tengah, Algafry Rahman, serta berbagai elemen masyarakat dan komunitas ini membuktikan bahwa ketika pemerintah, organisasi, dan warga bersatu, isu lingkungan bukan lagi sekadar wacana di atas kertas, melainkan aksi nyata yang akarnya kini tertanam kuat di tanah Bangka Belitung. (Wind)