Pangkalpinang, Suarababelnews.com –
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terus mendorong transformasi lahan pascatambang menjadi kawasan produktif yang berkelanjutan. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), langkah strategis tengah disiapkan untuk menjadikan Desa Dendang, Kabupaten Belitung Timur, sebagai pusat pembelajaran nasional (learning center) dalam pengelolaan lahan bekas tambang.
Inisiatif ini merupakan bagian dari program prioritas Gubernur Babel, Hidayat Arsani, yang berfokus pada pemulihan ekosistem sekaligus penguatan kemandirian ekonomi masyarakat. Proyek tersebut dijalankan melalui kolaborasi internasional bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Federal Institute for Geosciences and Natural Resources dalam kerangka kerja sama Mine Reclamation and Environmental Protection.

Sebagai tahap awal, tim teknis telah diturunkan untuk melakukan penilaian dasar (baseline assessment) di Kabupaten Belitung Timur. Tim Litbang Bappeda yang dipimpin Kepala Bidang Litbang, Eko Sentosa, mendampingi Bappenas dan BGR guna memetakan kondisi biofisik, sosial, dan ekonomi secara menyeluruh sebelum implementasi proyek dilakukan.
Kepala Bappeda Babel, Joko Triadhi, menegaskan bahwa pemerintah provinsi berperan sebagai penanggung jawab di tingkat daerah. Dalam hal ini, Pemprov bertugas memfasilitasi jalannya program sekaligus menjembatani koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Kami menjalankan mandat Gubernur untuk mengawal kegiatan ini secara penuh. Fokus kami adalah menjadi penghubung antar pemangku kepentingan, karena program ini berkaitan langsung dengan prioritas reklamasi tambang berkelanjutan,” ujarnya saat menerima kunjungan tim Bappenas dan BGR, Jumat 10 April 2026.
Menariknya, program ini tidak dimulai dari nol. Lokasi pengembangan berada di kawasan sawah apung milik Kelompok Pembudi Daya Ikan (Pokdakan) Aik Kik Apau di kolong bekas tambang Desa Dendang. Inovasi berbasis masyarakat tersebut menjadi fondasi awal yang menunjukkan bahwa lahan pascatambang dapat diolah menjadi sumber ekonomi baru melalui pendekatan teknologi dan kreativitas.
Penetapan Desa Dendang sebagai lokasi proyek telah melalui serangkaian proses seleksi, termasuk survei awal dan pembahasan dalam workshop perencanaan yang digelar pada 24–25 Februari 2026 di Jakarta.
Meski berlokasi di Belitung Timur, program ini dirancang dalam skala regional. Pemerintah provinsi terus menjalin koordinasi intensif dengan pemerintah kabupaten setempat agar implementasi di lapangan berjalan optimal. Desa Dendang diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah di Babel.
Secara teknis, pendekatan yang digunakan bersifat aplikatif dan mudah diterapkan, sehingga dapat diadopsi oleh masyarakat maupun pelaku industri. Program ini juga diarahkan untuk mendukung konsep ekonomi sirkular, sekaligus memperkuat agenda pengembangan 20 desa wisata di daerah tersebut.
Joko menekankan bahwa proses pemulihan lahan bekas tambang memerlukan tahapan yang berkelanjutan, dimulai dari perubahan pola ekonomi masyarakat yang sebelumnya bergantung pada sektor tambang.
Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan reklamasi harus selaras dengan potensi lokal serta kebutuhan masyarakat, agar tidak berhenti sebatas proyek jangka pendek.
“Strategi kami bukan sekadar menanam secara fisik, tetapi memastikan lahan pascatambang menjadi ekosistem produktif yang berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.
(Wind)












