Pangkalpinang, Suarababelnews.com –
Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menghadiri Peringatan Renungan Malam Kudatuli yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Daerah Banteng Muda Indonesia (BMI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di Tugu Titik Nol Kota Pangkalpinang, Selasa 28 Juli 2026 malam.
Mengusung hashtag #KamiTidakLupa, kegiatan tersebut menjadi momentum mengenang peristiwa 27 Juli 1996 melalui rangkaian doa bersama, penyalaan lilin, refleksi perjuangan demokrasi, pembacaan puisi, hingga penyampaian kesaksian dari pelaku sejarah Kudatuli.
Dalam sambutannya, Dessy Ayutrisna menyampaikan apresiasi kepada penyelenggara karena telah menghadirkan ruang refleksi yang dinilai penting, khususnya bagi generasi muda, untuk memahami sejarah bangsa sekaligus menjaga nilai-nilai demokrasi.
“Atas nama Pemerintah Kota Pangkalpinang kami mengapresiasi kegiatan seperti ini. Kudatuli mengajarkan kita agar tidak melupakan sejarah, karena dari sejarah kita tahu ke mana arah kita melangkah ke depan. Peristiwa ini juga mengajarkan kita arti demokrasi,” ujar Dessy.
Dessy menjelaskan bahwa kehadirannya dalam kegiatan tersebut mewakili Wali Kota Pangkalpinang yang berhalangan hadir. Ia juga mengajak masyarakat, terutama generasi muda, agar menjadikan demokrasi sebagai sarana pembelajaran dengan mengedepankan sikap santun, damai, serta memperkuat persatuan.
“Saya berharap kepada seluruh anak muda di Kota Pangkalpinang, jadikan demokrasi sebagai pembelajaran. Mari kita isi demokrasi dengan cara yang santun, tidak merusak, serta mampu merangkul persatuan dan kesatuan di Kota Pangkalpinang maupun Provinsi Bangka Belitung,” tegasnya.
Selain itu, Dessy kembali mengingatkan pentingnya pesan “Jas Merah” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Menurutnya, semangat perjuangan yang lahir dari peristiwa Kudatuli harus terus menjadi pengingat agar kehidupan demokrasi tetap terjaga dalam suasana yang aman, damai, dan kondusif.
Sementara itu, Ketua BMI Bangka Belitung, Bayu Hardiyanto, mengatakan bahwa Renungan Malam Kudatuli bertema “Kami Tidak Lupa” merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan demokrasi sekaligus upaya mengajak generasi muda memahami sejarah bangsa agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
Apresiasi juga disampaikan perwakilan DPD PDI Perjuangan Kepulauan Bangka Belitung, Rizky. Menurutnya, inisiatif BMI Babel menyelenggarakan kegiatan refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa Kudatuli merupakan salah satu peristiwa penting dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
“Momentum ini mengingatkan kembali bahwa demokrasi kita pernah ternodai pada tahun 1996. Sejarah itu tidak boleh dilupakan, karena dari sanalah kita belajar bagaimana memperjuangkan kebebasan dan menjaga demokrasi,” ujarnya.
Rizky menambahkan, peristiwa Kudatuli harus menjadi pelajaran agar praktik penindasan terhadap kebebasan berpendapat tidak kembali terjadi di Indonesia.
“Bangsa ini memiliki kedaulatan demokrasi dan kebebasan berbicara. Peristiwa seperti Kudatuli tidak boleh terulang kembali. Kebebasan harus tetap hidup sepanjang masa sebagaimana pesan yang selalu disampaikan Ibu Megawati Soekarnoputri,” tegasnya.
Renungan malam berlangsung dengan suasana khidmat. Puluhan anggota dan pengurus BMI Bangka Belitung bersama kader PDI Perjuangan menyalakan lilin serta memanjatkan doa sebagai bentuk penghormatan kepada para korban peristiwa 27 Juli 1996.
Suasana semakin mengharukan saat kader PDI Perjuangan, Purba dan Budi Semprul, membacakan puisi bertema perjuangan demokrasi. Pada kesempatan yang sama, Sri Rejeki dan Yugo Saldian yang merupakan saksi hidup peristiwa Kudatuli turut membagikan pengalaman mereka ketika menghadapi kerusuhan 27 Juli 1996. Kesaksian tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa demokrasi yang dinikmati saat ini merupakan hasil perjuangan panjang dan pengorbanan banyak pihak. (Wind)













